Menggabungkan konsep “pusat’ dari sudut pandang jawa-jogja dan islam (kiblat). Mengangkat tradisi kotagede sebagai kota budaya , yang menjadi persimpangan diantara budaya Hindu, Islam, Jawa, China dan kaum santri dalam sebuah wujud kompleks bangunan dalam fungsi edukasi, kultural, rekreasi dan religi. Kotagede sebagai salah satu kota tua di Jawa sangat kaya warisan sosial budayanya, sehingga keberadaan bangunan ini sangat penting untuk mewadahi aktifitas masyarakatnya yang kian lama kian pudar karena pergeseran budaya.
Dari sisi arsitektur coba menangkap fenomena ‘dulu dan sekarang’ dalam elemen-elemen bangunan yang sengaja didampingkan untuk menunjukkan dua hal yang tampak bertolak belakang amun sebenarnay berampingan dan justru menggambarkan kemajemukan dan progresifitas. ‘Tradisional dan modern’ ditampilkan dalam pemilihan material di ruang-ruang yang menjadi pusat aktifitas seperti museum, masjid, gasebo, perpustakaan dan ruang audiovisual.
