Ketika mulai belajar arsitektur di Universitas, bicara desain dan dunia arsitektur pasti tidak akan lepas dari sebuah buku yang seakan menjadi sebuah kitab sucinya para arsitek. Semua standar dan data tentang tipologi bangunan beserta semua dimensinya sudah dibakukan dan para arsitek seakan takluk dengan aturan-aturan yang seluruh dunia tampaknya tak berdaya dan mau tak mau harus mengikuti pakem yang ada, dari jaman Le Corbuiser sampai generasi AMI dan para mahasiwa yang saat ini (mungkin) masih bertanya seberapa hebatnya sih Bung Ernst Neufert si pencipta Standar Data Arsitek ini..
Ketika mulai mendesain, ukuran dan dimensi sebuah ruang yang mencipta karya arsitektur seakan tak dapat dikompromikan untuk bisa diubah. Bahkan seorang dosen sebagai orang yang (mungkin) merasa lebih tahu dari mahasiswanya dengan lantang mencerca karya mahasiswanya tatkala mereka tak mengikuti pakem yang ada di buku Neufert. Apakah ini memang sebuah keharusan, pemberangusan karya arsitektur atau pengkerdilan kreatifitas. Emangnya tidak boleh buat ruang tidur dengan lebar 1,5 meter? Apa salah membuat pintu kamar dengan tinggi 1 meter?
Semua hal tersebut pasti menjadikan kita bertanya apakah ukura-ukuran tersebut dibuat untuk siapa dan atas dasar apa? Banyak pertanyaan yang akhirnya terjawab dengan sendirinya ketika saya berada di tengah rakyat miskin yang mayoritas hidup di daerah urban dengan segala keterbatasan; lahan, ruang dan uang. Mereka survive dan selalu bisa mensiasati keterbatasan itu dan yang muncul adalah kreatifitas luar biasa. Ruang yang sempit, material bekas bisa disulap menjadi sebuah rumah (kita melihat sebagai salah satu karya arsitektur) mungil di kolong tol atau di pinggir rel misalnya, dengan ukuran 2 meter x 5 meter bisa mewadahi satu keluarga. Hal lain yang menurut saya hebat adalah mereka merasa nyaman dengan ‘baju’ tersebut.
Apakah para arsitek yang selalu mendewakan Neufert dalam setiap membuat desain akan berfikir sekreatif warga miskin dalam mensiasati ruang? Atau ruang akan dapat disiasati karena ada uang? Bagi rakyat miskin tanpa uang semua bisa terjadi, tetapi untuk para arsitek (yang mengaku profesional) dan selalu belajar dari buku apakah bisa mendesain tanpa uang? Sebagai arsitek, perlu sekiranya kita melihat banyak kreatifitas muncul dari rakyat miskin untuk melihat dan belajar tentang efisiensi, fungsi dan estetis daripada kita melihat sebuah karya arsitektur hanya dari kosmetiknya saja.