Feeds:
Posts
Comments

digunting dari www.beritabumi.com

Ani Purwati – 03 Apr 2009

Hasil analisis Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) Sabtu kemarin (28/3) menunjukkan adanya pelanggaran tata ruang dalam tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung 27 Maret dinihari lalu.

“Jelas bahwa situ berfungsi untuk menampung air yang digunakan sebagai irigasi, namun dalam perkembangannya masyarakat tinggal secara merata di daerah itu,” ungkap Ilyas Assaad, Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), di Jakarta (3/4).

Peraturan daerah juga telah menetapkan bahwa jarak bangunan dengan tanggul seharusnya 50 m. Ternyata di lapangan banyak bangunan yang berdekatan dengan tanggul. Masalahnya adalah yang memberikan ijin bangunan adalah daerah setempat. Sehingga kesalahan ada di daerah. Untuk itu penegakan hukum atas kesalahan itu, menurut Ilyas, KLH tidak bisa masuk begitu saja.

Penegakan hokum dapat dilakukan di tingkat daerah. Selain itu karena terkait tata ruang, maka yang berkepentingan dalam penegakan hukumnya adalah Departemen Pekerjaan Umum. Sementara KLH bisa masuk bila melihat dari aspek kerusakan lingkungan. Dalam hal ini KLH juga akan memberikan rekomendasi bersamaan dengan akan ditetapkannya Inpres tentang Pengelolaan Situ. Rino Subagyo dari Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) mengatakan bahwa masyarakat korban tragedi Situ Gintung juga bisa mengajukan gugatan claas action atas kerusakan dan kerugian yang mereka alami.

Sedangkan organisasi non pemerintah yang memenuhi syarat juga bisa mengajukan gugatan atas fungsi pemerintah yang tidak berjalan. Korban Bertambah Hingga 2 April kemarin data korban meninggal dalam tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat di Tangerang Selatan, Banten pada dini hari sepekan lalu ada 100 orang dan 70 orang yang masih dinyatakan hilang. Sementara para korban lainnya masih tinggal di penampungan sementara di kampus Universitas Muhamadiyah Jakarta.

Selanjutnya para korban akan direlokasi dari kawasan tersebut ke lokasi yang lebih aman, seperti ke rusunami atau membangun rumah di lahan milik negara yang kosong. Meski demikian sebagian warga menolak dan bersikeras ingin tetap tinggal di kawasan semula karena merasa sudah bertahun-tahun tinggal di sana.

Manusia diperkirakan membutuhkan 0,5 kg oksigen/hari, bila ditinjau dari kondisi lingkungan hidup alami yang masih relatif baik atau dalam keadaan keseimbangan antara daerah terbangun dan tidak terbangun. Berdasarkan perkiraan kenaikan jumlah penduduk Indonesia tahun 2005, maka kebutuhan akan ketersediaan oksigen (O2) akan meningkat menjadi 4,5 kg/jam.

Salah satu pemasok utama ketersediaan udara bersih adalah pepohonan di RTH kota sebagai ‘paru-paru’ kota yang merupakan produsen oksigen (O2), penyerap karbondioksida (CO2) dan gas polutan lain, serta sebagai daerah resapan air, yang belum tergantikan fungsinya.

Namun distribusi RTH kota seringkali tidak merata, di mana kawasan yang seharusnya memiliki RTH cukup, justru tidak memiliki RTH yang memadai, seperti di kawasan permukiman padat, industri, terminal atau tempat pembuangan sampah. RTH untuk ruang bermain anak-anak, ruang bersosialisasi dan berolah-raga sudah lama hilang.

Hasil penelitian Purnomohadi (1994) yang dilakukan untuk mengetahui eksistensi RTH kota dengan potensi redaman dan jerapan terhadap terhadap tujuh zat pencemar udara, menunjukan korelasi yang nyata.

Fungsi RTH kota yang ditata secara estetis fungsional dapat digolongkan sesuai kegunaannya sebagai pembatas/pengaman; kawasan konservasi terletak antara dua wilayah jalur lalu lintas dan kereta api, sempadan sungai, listrik tegangan tinggi, dan hutan kota; kawasan rekreasi aktif: lapangan olahraga atau taman bermain; kawasan rekreasi pasif taman relaksasi dan kawasan produktif pertanian kota, pekarangan/halaman rumah; dan lahan yang sengaja disisihkan untuk kegunaan khusus atau lahan cadangan.

Sifat alami organisme tanaman dalam RTH melalui mekanisme rekayasa lingkungan, mampu memperbaiki kualitas lingkungan, sehingga dapat menjadi pedoman dalam memilih jenis tanaman pengisi RTH dari berbagai fungsi. Dari segi efektivitas menekan pencemaran udara, menyerap dan menjerap debu, mengurangi bau, meredam kebisingan, mengurangi erosi tanah, penahan angin dan hujan secara menyeluruh, maka fungsi tanaman antara lain sebagai berikut:

Dedaunan berair dapat meredam suara.

Cabang-cabang tanaman yang bergerak dan bergetar dapat menyerap dan menyelubungi suara, demikian pula daun yang tebal menghalangi suara dan daun yang tipis, dapat mengurangi suara.

  • Trikoma daun dapat menyerap butir-butir debu, melalui gerakan elektrostatik dan elektromagnetik.
  • Pertukaran gas melalui mulut daun.
  • Aroma bunga dan daun mengurangi bau.
  • Percabangan (dan ranting) beserta dedaunannya dapat menahan angin dan curah hujan.
  • Penyebaran akar dapat mengikat tanah dari bahaya erosi.
  • Cabang yang melilit dan berduri menghalangi gangguan manusia.
  • Bentuk dan tekstur daun berpengaruh terhadap daya serap sinar/hujan, dan daya ikat cemaran.
  • Bentuk kanopi tajuk pohon berpengaruh terhadap arus dan arah angin turbulensi lokal dan peredaman bunyi.

Kemampuan tanaman menyerap dan menjerap (intersepsi) debu dan unsur pencemar udara lain (TSP: total suspended particulate), dipengaruhi oleh:

(1) Jenis tanaman berkaitan dengan sifat-sifatnya sebagai berikut :

  • Kekasaran permukaan daun, potensi pengendapan timbal akan semakin besar, sebab kemampuan mengakumulasi timbal (Pb) dan seng (Zn) pada daun berstruktur kasar, semakin tinggi dibanding yang licin terutama untuk zarah timbal (Pb) bisa tujuh kali lebih banyak.
  • Struktur ranting dan batang yang berbulu, akan mampu lebih banyak menjerap dan mengintersepsi zarah timbal (Pb) dan seng (Zn), dibanding ranting/batang yang berkulit licin atau berlilin.
  • Arsitektur dan morfologi pohon (Halle dan Oldeman, 1975 dalam Purnomohadi, 1994), mempengaruhi kemampuan tanaman untuk mengintersepsi berbagai zarah dan unsur cemaran udara.

(2) Perancangan maupun perencanaan arsitektur lansekap yang sesuai permasalahan lokal akan mampu meredam berbagai zarah dan unsur cemaran udara secara lebih efektif, yaitu dengan menggunakan berbagai jenis tanaman yang mempunyai sifat dan kemampuan berbeda dalam meredam pencemaran udara, menerapkan pola multi tajuk dan campuran berlapis-lapis.

(3) Sebaran komunitas tumbuhan dalam berbagai fungsi dan bentuk RTH kota yang menyebar merata di seluruh bagian kota, akan lebih efektif, dalam meredam pencemaran lingkungan dibandingkan dengan RTH yang luas tetapi hanya pada lokasi tertentu.

Sedang kenaikan laju pengurangan SO2 pada jarak antara tepian taman di atas, tenyata berhubungan langsung dengan kenaikan waktu, dan bukan pada kecepatan angin. Bila tak ada angin, maka efek pengurangan zarah, khususnya debu, maka debu tersebut akan menempel pada tanaman, misalkan melalui gerak elektromagnetik. Lebar sabuk hijau (green belt) berukuran lebih dari dua meter tanpa mengabaikan fungsi padang rumput akan mampu mengurangi debu sampai 75 persen.

Pepohonan pun mampu menurunkan konsentrasi partikel timbal (Pb) yang melayang di udara, karena kemampuannya untuk dapat meningkatkan turbulensi dan mengurangi kecepatan angin. Celah stomata mulut daun yang berkisar antara 2-4 μm atau 10 μm dengan lebar 2-7 μm, maka ukuran partikel timbal yang demikian kecil, rata-rata 2 μm, akan dapat masuk ke dalam daun dengan mudah, serta akan menetap dalam jaringan daun, menumpuk di antara sel jaringan pagar (palisade), dan atau jaringan bunga karang (spongious tissue).

Sedang zarah yang lebih besar ukurannya akan terakumulasi pada permukaan kulit luar tanaman. Cemaran yang terakumulasi ini sebagian kecil dapat terjerap secara kimiawi (chemically adsorbed) dan akhirnya terserap (absorbed) oleh jaringan hijau, dan sebagian lagi akan tersapu oleh angin atau air hujan, yang kemudian dibawa aliran angin/air dan atau diendapkan ke dalam tanah. Partikel berukuran sub-mikron akan terdifusi ke dalam jaringan tanaman melalui stomata dan akhirnya terbawa ke dalam sistem metabolisme tanaman.

Menurut Dahlan (Purnomohadi, 1994), yang menggolongkan ketahanan tanaman terhadap cemaran udara dari kendaraan bermotor, berdasar kemampuan dan kepekaan tanaman, khususnya terhadap unsur timbal (Pb), dapat dibedakan menjadi lima kategori, yaitu:

  • Sangat peka: Kesumba (Bixa Orellana), Cempaka (Michelia champaka), Glodogan (Polyalthea longifolia)
  • Kurang peka, kemampuan menyerap timbal rendah: Tanjung (Mimusops elengii)
  • Kurang peka, kemampuan menyerap timbal tinggi: Johar (Casia siamea) dan Mahoni (Swietenia macrophylla)
  • Tidak peka, kemampuan tinggi menyerap timbal: Kirai payung (Filicium decipiens), Keben (Barringtonia asiatica), Asam landi (Pithecellobium dulce), tanaman berdaun jarum serta bambu.
  • Tidak peka, kemampuan rendah menyerap timbale: Jamuju (Podocarpus imbricatus)

Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 14/1988 tentang Penataan RTH di Wilayah Perkotaan, memuat kriteria jenis tanaman yang disesuaikan peruntukkan lahan, perlu perhatian pada kepekaan pengaruh berbagai zat cemaran. Pemilihan jenis tanaman pelindung bagi RTH kota tentu akan berlainan antar berbagai kota di Indonesia, tergantung ekosistem setempat. Masih banyak fungsi ekologis RTH terhadap kualitas udara kota yang perlu diteliti dan dikembangkan lebih jauh lagi. Bagaimanapun juga keberadaan pohon dan RTH sangat menentukan kualitas dan ketersediaan udara bersih bagi kelangsungan hidup kota dan warga kota.

Kemampuan tanaman menjerap Pb beragam antarjenis tanaman. Menurut Dahlan (2004), Damar (Agathis alba), Mahoni (Swetenia macrophylla), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Pala (Mirystica fragrans), Asam landi (pithecelobium dulce), dan Johal (Cassia siamea) memiliki kemampuan sedang sampai tinggi dalam menurunkan Pb di udara. Glodogan tiang (Polyalthea longifolia), Keben (baringtonia asiatica), dan Tanjung (Mimusops elengi) memiliki kemampuan menjerap Pb rendah namun tidak peka terhadap pencemaran udara, sedangkan Daun Kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dan Kesumba (Bixa orellana) memiliki kemampuan rendah dan tidak tahan terhadap pencemaran udara. Menurut Setiawati (2000), Kesumba (Bixa orellana) memiliki kemapuan menjerap Pb terkecil (29,01 μg/g) sedangkan Kirai payung (Filicium. decipiens) mempunyai kemampuan tertinggi (50.62 μg/g).

Agen Sedot Hayati

Ada banyak jenis tanaman indoor yang bisa Anda karyakan sebagai penolak polutan. Mereka memiliki spesialisasi sedot berlainan. Pakis boston, bambu, palem, Philodendron, dan Sansevieria adalah ahli sedot polutan yang berasal dari senyawa formaldehyde

Serahkan problem gas beracun yang bersumber dari senyawa trichloroethylen kepada tanaman gebera, krisan dan Dracena deremansis atau bambu rejeki. Sementara itu, Chlorophytum cosmosum vitatum alias lili paris, dan palem adalah tukang sedot sepesialis gas xylene.

Tiap tanaman antipolutan punya teknik sedot berlainan. Nephrolepis exaltata ‘Bostoniensis’ atau pakis boston menggunakan stomata sebagai “facum cleaner” untuk penyedot aneka gas beracun. Piranti renik itu banyak tersebar di bawah helaian daun. Gas beracun yang telah diserap stomata akan memasuki sistim metabolisme dalam tubuh Si paku boston. Di sana, gas penuh bahaya itu dirombak dan disulap menjadi zat bermanfat.

Hasil perobakan lalu dikirim menuju zona perakaran. Olahan berbahan baku racun itu sebagian disuguhkan kepada bakteri yang nebeng di akar. Hidangan itu tak membuat para bakteri binasa. Sebab, mahluk miskroskopis tersebut memang hobi menyantap menu seperti itu. Bahkan ketika jatah ransum tak kunjung diberikan, bakteri pun secara swadaya mampu mengurai zat polutan menjadi makanan pokok harian. Teknik hisap polutan serupa juga dilakukan oleh Sansevieria, wali songo, Draceana, krisan, dan gerbera.

Metoda sedot lain dilakukan oleh sirih belanda. Polutan yang telah dihisap melalui stomata akan diteruskan masuk melalui sitosol menuju vakuola (ruang sel yang berisi cairan). Teknik sedot ini sangat efektif untuk menyapu pencemaran logam berat. Semisal Cd, Zn, Mn, dan Hg. Keajaiban itu terjadi berkat adanya perpindahan protein (antiporter) yang menukar proton dengan ion metal. Kondisi ini terjadi bila logam berat telah terakumulasi di dalam vakuola dan sitosol.

Aglaonema memiliki trik hisap tersendiri. Media tanam beserta daun tanaman keluarga Araceae ini banyak mengeluarkan uap air. Kondisi seperti itu mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi lembap. Selain uap, Aglaonema juga rajin menyemprotkan senyawa yang dinamai phytochemical. Zat ini berkhasiat untuk menekan pertumbuhan sepora jamur dan bakteri merugikan dalam ruangan.

Hasil penelitian Associated Landscape Contractors of America menemukan bahwa phytochemical mampu menekan populasi bakteri dan spora jamur merugikan hingga 50 -60%. Di alam, hal seperti itu terjadi sebagai salah satu mekanisme tumbuhan untuk bertahan dan melindungi diri dari serangan pathogen.

Unjuk kerja dan kapasitas sedot tiap tanaman pun berlainan. Ronald Wood, peneliti dari Urban Horticulture Unit, University of technology Sydney mengungkap bahwa tanaman krisan mampu mengurangi gas polutan yang gentayangan di dalam ruangan sebanyak 90%. Agar dicapai hasil maksimal, ruangan seluas 30m² dibutuhkan tanaman krisan sebanyak 2 – 3 pot.

Pakis boston sanggup menyikat habis formaldehid sebesar 1800 mikrogram setiap hari. Tanaman saudara dekat suplir ini juga mampu menyerap polutan yang bersumber dari senyawa xylene sebanyak 208 mikrogram setiap jam. Supaya efisien, dianjurkan menanam paku boston sebanyak 2 pot untuk ruangan seluas 30m² .

Sirih belanda (Epipremnum aureum) termasuk salah satu tanaman anti- polutan berkapasitas penyerapan besar. Tumbuhan merambat berdaun kuning ini mampu meredam 53% dari total benzena sebesar 0,156 ppm per hari. Sirih belanda juga sanggup menekan 67% dari total formaldehid 18 ppm dan 75% dari total Karbon monoksida sebesar 113 ppm.

Seusai menyerap polutan dalam jumlah banyak, daun akan mengalami kejenuhan. Daya sedot daun semakin menurun seiring kian uzurnya usia daun yang bersangkutan. Nah, daun tua seperti itu wajib dicukur. Tujuannya supaya daun muda lekas tumbuh kembali.

Udara sehat pun senantiasa bisa Anda nikmati.

Aneka Tukang Sedot Polutan

  • Paku Boston Nephrolepis exaltata Bostoniensis Penyerap paling ampuh
  • Palem Chyrsalidocarpus lutescens Penyerap banyak polutan
  • Palem bambu Chemaedorea seifrizii Formaldehid, benzena, Trichloroethylene, dan Penguapan tinggi
  • Karet hias Ficus robusta Formaldehid
  • Dracaena  Draceana deremensis Formaldehid
  • Ivy Hedera helix Formaldehid
  • Palem phoenix  Phoenix roebelenii Xylene
  • Lili air Spathiphyllum sp Alkohol, aseton, Formaldehid, Benzene, Trichloroethylene
  • Dracaena Dracaena fragans massangeana Formaldehid
  • Sirih Belanda Epipremnum aureum Formaldehid
  • Paku Neprolepis obliterata Formaldehid, alkohol
  • Krisan Chrysanthemum morifolium Formaldehid, benzene, Ammonia.
  • Gerbera Gerbera jamesonii Transpirasi tinggi
  • Dracaena Dracaena deremensis warneckei Benzene
  • Dracaena Dracaena marginata Xylene dan Trichloroethylene
  • Schefflera Brassaia actinophylla Formaldehid.

Masalah banjir yang saat ini masih menghantui warga Jakarta (mungkinkah) akan terjawab dengan dibuatnya BKT (banjir kanal timur) yang dibuat melalui APBN hingga triliyunan rupiah. Kali ciliwung disudet di sekitar Cipinang Besar Utara ke arah timur melalui Duren Sawit dan langsung diarahkan ke Pantai Utara melalui kawasan Cakung dan Marunda. Di atas kertas, seolah rencana yang sudah sejak lama digembar-gemborkan ini tampak cantik tetapi dlam level pelaksanaan dan pasca konstruksi proyek BKT ini mungkin masih perlu dilihat secar konkret apakah Jakarta akan menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Lalau ada apa dengan kampung-kampung yang ‘dihapus’ dari peredaran Jakarta, karena kelewatan proyek tersebut? Memang sih..dari sisi kepentingan, proyek ini lebih mengutamakan kepentingan publik dan kota Jakarta dalam jangka panjang. Jadi sah-sah saja kalau pemerintah terus menghitung dana yang dikeluarkan untuk mengganti rugi ribuan bangunan dan tanah warga, puluhan kampung tradisional. Meski dari sisi nominal jumlahnya cukup sebagai nilai ganti rugi, tetapi akar sejarah, budaya dan relasi sosial warga yang sudah terbanun puluhan tahun hilang begitu saja karena KEPENTINGAN PUBLIK. Ini adalah nilai-nilai dalam masyarakat yang menjadi warna tersendiri bagi Jakara yang tentunya harus juga mendapat sebuah ‘harga’ yang tak ternilai, bukan saja bentukan fisik rumah dan luas sebidang tanah yang menjadi ukuran layak atau tidak sebuah kampung untuk DIGUSUR.

Jadi, sebagai warga biasa di kota Jakarta atau (mungkin) kota-kota lain di Indonesia, yang selama ini dianggap hanya sebagai penonton (pinggggiran) dan bukan sebagai bagian dari kota yang juga berhak memberikan usul atau ide atas rencana kota ke depan, silakan anda siap-siap saja bila sang penguasa kota berkata: “..saudara-saudara sekalian, untuk kepentingan publik kami persilakan saudara untuk siap-siap menerima uang kerohiman, karena kampung ini akan digunakan sebagai proyek pengembangan kota supaya anaka cucu kita bisa menikmati kota kita bersama ke depan..” (kita..?loe kaleee…!!)


Ketika mulai belajar arsitektur di Universitas, bicara desain dan dunia arsitektur pasti tidak akan lepas dari sebuah buku yang seakan menjadi sebuah kitab sucinya para arsitek. Semua standar dan data tentang tipologi bangunan beserta semua dimensinya sudah dibakukan dan para arsitek seakan takluk dengan aturan-aturan yang seluruh dunia tampaknya tak berdaya dan mau tak mau harus mengikuti pakem yang ada, dari jaman Le Corbuiser sampai generasi AMI dan para mahasiwa yang saat ini (mungkin) masih bertanya seberapa hebatnya sih Bung Ernst Neufert si pencipta Standar Data Arsitek ini..

Ketika mulai mendesain, ukuran dan dimensi sebuah ruang yang mencipta karya arsitektur seakan tak dapat dikompromikan untuk bisa diubah. Bahkan seorang dosen sebagai orang yang (mungkin) merasa lebih tahu dari mahasiswanya dengan lantang mencerca karya mahasiswanya tatkala mereka tak mengikuti pakem yang ada di buku Neufert. Apakah ini memang sebuah keharusan, pemberangusan karya arsitektur atau pengkerdilan kreatifitas. Emangnya tidak boleh buat ruang tidur dengan lebar 1,5 meter? Apa salah membuat pintu kamar dengan tinggi 1 meter?

Semua hal tersebut pasti menjadikan kita bertanya apakah ukura-ukuran tersebut dibuat untuk siapa dan atas dasar apa? Banyak pertanyaan yang akhirnya terjawab dengan sendirinya ketika saya berada di tengah rakyat miskin yang mayoritas hidup di daerah urban dengan segala keterbatasan; lahan, ruang dan uang. Mereka survive dan selalu bisa mensiasati keterbatasan itu dan yang muncul adalah kreatifitas luar biasa. Ruang yang sempit, material bekas bisa disulap menjadi sebuah rumah (kita melihat sebagai salah satu karya arsitektur) mungil di kolong tol atau di pinggir rel misalnya, dengan ukuran 2 meter x 5 meter bisa mewadahi satu keluarga. Hal lain yang menurut saya hebat adalah mereka merasa nyaman dengan ‘baju’ tersebut.

Apakah para arsitek yang selalu mendewakan Neufert dalam setiap membuat desain akan berfikir sekreatif warga miskin dalam mensiasati ruang? Atau ruang akan dapat disiasati karena ada uang? Bagi rakyat miskin tanpa uang semua bisa terjadi, tetapi untuk para arsitek (yang mengaku profesional) dan selalu belajar dari buku apakah bisa mendesain tanpa uang? Sebagai arsitek, perlu sekiranya kita melihat banyak kreatifitas muncul dari rakyat miskin untuk melihat dan belajar tentang efisiensi, fungsi dan estetis daripada kita melihat sebuah karya arsitektur hanya dari kosmetiknya saja.

rumah ekologis

Desain rumah tinggal dengan mengedepankan aspek lingkungan, optimalisasi pencahayaan dan penghawaan alami untuk mendapatkan kenyamanan maksimal bagi penghuninya. Tata letak ruangan juga disesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari dengan tidak mengurangi kesan ‘panas’ karena over lighting. Pensiasatan menggunakan bukaan dobel (sistem krepyak dan kaca) adalah salah satu cara untuk membuat batas publik-privat dan luar-dalam.

Eksperimen penggunaan sistem solar cell untuk pencahayaan buatan di ruang-ruang tertentu sebagai bagian dari kampanye hemat energi.

Menggabungkan konsep “pusat’ dari sudut pandang jawa-jogja dan islam (kiblat). Mengangkat tradisi kotagede sebagai kota budaya , yang menjadi persimpangan diantara budaya Hindu, Islam, Jawa, China dan kaum santri dalam sebuah wujud kompleks bangunan dalam fungsi edukasi, kultural, rekreasi dan religi. Kotagede sebagai salah satu kota tua di Jawa sangat kaya warisan sosial budayanya, sehingga keberadaan bangunan ini sangat penting untuk mewadahi aktifitas masyarakatnya yang kian lama kian pudar karena pergeseran budaya.

Dari sisi arsitektur coba menangkap fenomena ‘dulu dan sekarang’ dalam elemen-elemen bangunan yang sengaja didampingkan untuk menunjukkan dua hal yang tampak bertolak belakang amun sebenarnay berampingan dan justru menggambarkan kemajemukan dan progresifitas. ‘Tradisional dan modern’ ditampilkan dalam pemilihan material di ruang-ruang yang menjadi pusat aktifitas seperti museum, masjid, gasebo, perpustakaan dan ruang audiovisual.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.